Sabtu, 20 November 2010

Tugas Editor


Salah satu posisi media massa adalah editor. Editor ini fungsinya yang sangat sederhana adalah mengedit laporan yang masuk dari rekan-rekan jurnalis di lapangan atau bisa pula mengedit tulisan kolom yang masuk ke sebuah media cetak. Dalam hal audio dan video maka dia juga memeriksa script atau naskah yang akan dibacakan oleh produser juga isi audio dan video yang akan disiarkan.

Untuk tulisan yang akan diterbitkan maka seorang editor memiliki dua tugas penting secara garis besarnya.
1. Dia harus memeriksa akurasi kalimat dan kata-kata yang dituliskan oleh reporter dari lapangan. Akurasi ini sangat penting karena dari sinilah kemudian akan diketahui bagaiman bobot sebuah tulisan. Ketelitian merupakan ‘hukum menulis’ pertama yang harus diberlakukan. Sebuah kata jangan sampai tertinggal atau terbalik-balik atau kelebihan satu dua kata. Kata yang terjalin dalam sebuah kalimat merupakan bangunan dari paragraf dan bangunan dari tulisan atau laporan. Oleh sebab itu tugas pertama dan utama adalah memeriksa semua kata-kata yang ada di dalam tulisan itu baik secara tunggal maupun kalimat. Semuanya harus akurat sesuai dengan tata bahasa dan rasa bahasa. Pemeriksaan kalimat dan kata ini penting untuk menjadikan sebuah laporan ini kokoh dan berbobot. Keteledoran dalam penulisan kata akan berakibatkan pada kelemahan dalam tulisan itu. Bisa pula kesalahan ketik dan kesalahan penulisan akan mengganggu pembaca yang sedang tekun menyimak laporan atau gagasan dalam sebuah tulisan. Kesadaran akan makna bahwa sebuah kata itu benar dituliskan dan benar dilaporkan dan siap untuk dicetak menjadi sangat penting dalam tulisan yang akan diterbitkan dalam media cetak atau online. Bahkan di dunia televisi dan radio pun naskah harus benar-benar menunjukkan akurasinya.
2.Sesudah teknis penulisan mulai kata perkata benar sesuai dengan tata bahasa dan sesuai dengan penyebutan dalam dunianya maka langkah berikutnya adalah memeriksa nama, tempat, istilah dan ungkapan yang ada dalam bahasa Indonesia. Jangan sampai sebuah kota salah tulis apakah penulisan Makasar itu satu s atau dua ss seperti Makassar. Ini penting untuk menjaga konsistensi dalam penulisan nama. Apakah ditulis Suharto atau Soeharto, Sukarno atau Soekarno. Demikian juga penyebutan istilah yang benar apakah medianya menulis Al Qaida, Al Qaidah atau Al Qaeda atau bahkan Al Kaidah. Apakah menyebut Osama bin Ladin, Osama bin Laden atau Usamah bin Ladin. Editor bertugas membereskan semua komponen dalam laporan itu sehingga konsisten dan ajeg mengikuti ketentuan penulisan yang berlaku di sebuah media. Mungkin saja penulisan satu media dengan media lain, atau penyebutan media audio atau video satu sama lain berbeda. Apakah China atau Cina. Apakah Tionghoa atau Tiongkok. Semuanya harus disesuaikan dengan panduan lembaga media itu.
3. Setelah mengkaji semua kata-kata dan akurasi penulisannya maka seorang editor masuk kedalam struktur pelaporan. Apakah model piramida terbalik atau piramida biasa atau bahkan seperti model sebuah batang yang sejajar dan simetris. Disinilah bagian yang penting untuk memastikan bahwa urutan pelaporan fakta tersusun baik dan logis. Gagasan diurutkan dengan tatanan yang rapih.
4. Biasanya pada tahap akhir seorang editor akan melihat gaya penulisan rekannya. Jika gaya dan nuansa penulisan itu menjadi ciri dia maka ada dua kemungkinan. Bisa dipertahankan atau dirombak sama sekali. Seorang editor yang memiliki karakter kuat dan dominan bisa saja kalau waktunya mencukupi akan diubah gaya penuturan, penulisan dan urutan sesuai dengan keahliannya. Bisa saja jika dia mengenali gaya tulisan seseorang dia akan membiarkan laporan itu tertulis seperti gaya sang jurnalis. Demikian juga dalam pelaporan audio dan video. Seorang editor akan mengenali gaya seseorang dala penyampaian ide, gagasan dan laporan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar